Game-Translator
Intelligence Report

OPINION - Elden Ring Japanese Source is a Chaotic Nightmare

13 Jan 2026 5 min read

Lelucon Terjemahan Elden Ring: Kenapa Sumber Jepang Malah Bikin Pusing?

Pernah nggak sih kamu merasa udah melakukan hal yang bener tapi hasilnya malah zonk total? Nah, itulah perasaanku pas nyoba translate Elden Ring pake source Bahasa Jepang minggu lalu. Kamu mungkin mikir, 'Lho, kan FromSoftware itu perusahaan Jepang, logikanya pake source asli dong biar akurat?'. Masalahnya, Elden Ring itu kasus spesial yang bikin pusing tujuh keliling. Voice-over aslinya emang bahasa Inggris dan dunya-nya kental banget sama setting fantasi Barat. Gara-gara itu, pas kucoba pake source Jepang kemarin, hasilnya malah aneh banget, lebih kacau daripada Stellar Blade versi Jepang yang dulu sempat bikin drama di kalangan gamer. Dialog yang di bahasa Inggris kerasa puitis, gothic, dan misterius, pas ditarik dari Jepang malah kerasa kaku dan robotik gara-gara mereka sendiri sebenernya nerjemahin dari konsep folklore Inggris kuno yang dibawain sama George R.R. Martin!

Kamu bayangin aja, istilah 'Rest at Grace' kalau dipaksain dari bahasa Jepang yang udah diubah maknanya berkali-kali bisa jadi 'Beristirahat di Anugerah'. Terdengar sangat tidak natural dan malah kayak terjemahan otomatis majalah religius tahun 80-an yang ada di warung-warung, LMAO. Masalah utamanya ada di konsep 'Grace' itu sendiri. Di dunia Elden Ring, Grace adalah berkah dari Greater Will yang membimbing si Tarnished. Di bahasa Inggris, nuansa 'Guidance' itu dapet banget melalui pemilihan diksi yang archaic (kuno). Tapi di Jepang, bahasanya pake dialek formal dan kuno yang sangat kaku, yang kalau dibalikin ke bahasa kita malah jadi bingungin parah. Itulah alasan utapa kenapa aku memutuskan nggak bakal upload versi ini ke Nexus Mods. Kasihan kan kalian kalau lagi asik-asik lawan boss Malenia malah dikasih instruksi yang bikin garuk-garuk kepala karena bahasanya kayak buku manual mesin cuci?

Uniknya FromSoftware, mereka nulis skrip asli dalam bahasa Jepang, tapi Jepang-nya itu didasarin sama legenda dan dongeng Inggris lama hasil interpretasi tim lokal mereka. Jadi bahasanya emang sengaja dibuat kerasa 'asing' buat orang Jepang sendiri. Masalah muncul pas penerjemah luar (termasuk aku) nyoba ambil jalan pintas lewat bahasa aslinya tanpa mikirin vibe global. Nuansa emosional dan detail kecil di dialog Ranni the Witch misalnya, banyak banget yang hilang atau berubah total maknanya kalau ditarik mentah-mentah dari teks Jepang. Ranni itu harusnya dingin tapi anggun, bukan dingin kayak es batu di kulkas yang ngebosenin. Makanya, daripada memaksakan kehendak demi predikat 'Akurasi Sumber Asli', aku lebih pilih balik lagi pake source Inggris yang emang jadi jangkar emosi game ini. Kenapa? Karena skrip Inggris-nya sendiri udah dipoles sedemikian rupa sama tim Hidetaka Miyazaki biar nuansa kunonya kerasa tapi tetep bisa dipahami manusia normal yang nggak mau denger 'Bahasa Sansekerta' versi modern tiap lima menit.

Buat kamu para pendukung setia, keputusan udah bulat: rilis berikutnya bakal balik pake source Inggris sepenuhnya demi menjaga kesehatan mental kita bersama. Game ini nggak seberat Baldur's Gate 3 soal jumlah total narasi, tapi kedalaman istilahnya itu lho yang bahaya kalau asal-asalan nerjemahin. Aku nggak mau ngerusak pengalaman kalian jadi Elden Lord cuma gara-gara satu dua istilah konyol yang bikin atmosfer game yang udah keren ini jadi ancur lebur. Buat yang udah terlanjur download versi experimental kemarin lewat Trakteer dan ngerasa bahasanya agak 'ajaib', ya maaf ya! Itu namanya proses riset berbayar. Setidaknya sekarang kita tahu kalau jalan ninja nggak selamanya harus lewat Tokyo atau Kyoto. Kita ambil jalan yang lebih aman lewat London atau Nottingham aja biar istilah 'Rest at Grace' tetep jadi momen sakral tempat istirahat yang bener-bener estetik, bukan tempat dapet ceramah gratis dari bapak-bapak di pos ronda!

Kesimpulan dari Kegagalan Source Jepang:

  • Istilah teknis 'Elden Lord' jadi terasa seperti jabatan kantoran daripada raja legendaris.
  • Logika percakapan karakter NPC seperti Patches kehilangan unsur kelicikan humorisnya.
  • Metadata internal dalam teks Jepang seringkali bentrok dengan sistem inventory versi global.
  • Deskripsi item jadi terlalu panjang karena harus menjelaskan kanji-kanji yang sebenarnya punya makna simpel di bahasa Inggris.

Released Archive

Austronesian Showcase

Location
Image
Video